MINGGU, 07 NOVEMBER 2010 | 14:19 WIB
Surono. TEMPO/MUH SYAIFULLAH
Akurasi dan ketegasannya membuat analisis dan keputusan tentang kondisi Merapi patut diacungi jempol. Pada 25 Oktober lalu, pukul 06.00 WIB, ia memutuskan meningkatkan status Merapi dari siaga menjadi awas. Keesokan harinya, Gunung Merapi pun meletus.
"Saya menangis tiga kali untuk Merapi," kata Surono, yang meraih doktor geofisika dari Savoei University, Chambery, Prancis, pada 1993. Dalam sepekan terakhir, Tempo menguntit aktivitasnya. Kesehatannya tampak menurun karena ia berhari-hari begadang. Juga berbicara, meladeni wawancara wartawan dari puluhan media hingga suaranya serak. Berikut ini petikan perbincangan dengan lelaki kelahiran 8 Juli 1955 itu.
Kapan letusan Merapi akan berakhir. Apakah akan seperti Gunung Galunggung, yang mencapai 10 bulan?
I don't know. Yang jelas, letusan ini istimewa. Saya menangis tiga kali. Pertama, saat menentukan status awas. Waktu itu saya mengambil (keputusan) tanpa resistensi apa pun. Wah, indah sekali. Kedua, ketika masih ada korban (pada letusan 26 Oktober tercatat 38 orang tewas). Ketiga, saat sidang kabinet di Istana Negara, saya minta maaf kepada Presiden karena masih ada korban, saya enggak kuat. Menteri sampai menunggu saya minum. Saya menangis karena masih ada korban, saya merasa gagal. Komunikasi kami tidak sampai.
Saya tidak mau kejutan. Saya tidak mau yang lain-lain. Kita lihat saja setelah letusan 26 Oktober. Keluar api, diam, ada guguran lava, pembentukan kubah lava, selesai. Tetapi, kalau ada drive dari bawah, itu luar biasa. Ternyata yang tidak saya sukai terjadi. Sudah saya katakan itu berulang-ulang di berbagai media. Saya tidak mau mengharapkan (letusan) yang lebih buruk terjadi.
Pada tanggal 30 (Oktober), ada dum (letusan). Apakah ini yang terbesar?
(Ternyata) bukan. Muncul lagi, ada awan panas. Nah, sekarang Anda lihat atau enggak, apakah ini yang terbesar? Yes, yes, yes. Dan saya tidak punya jawabannya kenapa. Energinya luar biasa. Jauh lebih besar ketimbang letusan pada 1994, 1997, 2001, 2006. Olala, kok begini?
Seberapa besar perhitungan kasarnya?
Menjelang energi seismik di Merapi 300.000 x 10^12 (triliun) erg. Itu bukan perhitungan mutlak, tapi melihat kecenderungannya saja. Tetapi energinya mencapai 880 ribu triliun erg. Mendekati 900 ribu itu sudah sangat mencemaskan.
Dalam keadaan normal, energinya berapa?
Kalau sebelumnya 300 ribu (triliun erg) saja sudah berani (menetapkan status) awas, kenapa saya ndak berani sekarang? Kalau perubahannya tidak drastis, misalnya dari 400 ribu menjadi 450 ribu, mungkin saya masih berani. Saat penentuan awas itu tidak ada resistensi apa pun dari semua tim di BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian).
Apa istimewanya letusan Merapi kali ini?
Saya menentukan Gunung Kelud dalam status awas, tapi ndak meletus selama 4 minggu. Biasanya kalau meletus langsung eksplosif. (Merapi) ini meletus, tetapi efusif (letusan yang tidak menimbulkan ledakan; erupsi yang bersifat aliran).
Untung ketakutan saya dijawab Merapi. Muncul banyak guguran, tapi pijarnya enggak. Gugurannya itu terlalu besar sehingga orang mendengar gemuruh. Akan membentuk kubah lava. Kalau eksplosif, sangat bahaya. Paling tidak resistensi (penolakan warga) berkurang. Masyarakat memahami gugurannya besar, saya optimistis tidak ada resistensi.
Dan ini terbukti?
Terbukti, dan itu yang saya takutkan. Saya berharap energinya dipakai untuk guguran dulu, sisa energinya dilepaskan pelan-pelan dan membentuk kubah (lava baru). Saya mencoba meredam ketakutan itu dengan merekomendasi (jarak aman) 10 kilometer. (Tapi opsi Merapi akan) eksplosif tidak hilang.
Berapa jarak luncur awan panas?
Dulu pada 2006 hanya 6 kilometer jarak luncurnya, itu pun hanya 7 menit. Sekarang 33 menit, beberapa kali awan panasnya. Awan panas pada letusan ini ke segala arah karena energinya besar. Lebih besar dari yang sebelum-sebelumnya.
Kabarnya BPPTK sempat melakukan sosialisasi di rumah Mbah Maridjan?
Iya, tetapi beliau no comment. Saya terus terang ditelepon Andi Arif (Staf Khusus Presiden Bidang Bencana) kalau Mbah Maridjan bukan urusan saya. Beliau mengirim tim ke sini minta diantar ke Mbah Maridjan. Kami antar. Saya legowo.
Sebelumnya, Kinahrejo tidak pernah terjangkau letusan?
Ya, sekali lagi alam. Merapi bisa berbuat apa saja menurut hukum dia. Kita yang wajib mengalah. Kan, kita sudah menggunakan Merapi bertahun-tahun dengan manfaatnya. Kenapa kita enggak ngalah dua-tiga minggu untuk kebaikan bersama? Prinsipnya zero tolerance. Ini masalahnya kemanusiaan.
Meski sudah menentukan status awas, tetap ada korban?
Itu menangis kedua kalinya, saya merasa gagal karena tidak ingin ada korban. Zero tolerance, (matanya berkaca-kaca), ternyata itu ada. Berarti ada sesuatu yang gagal. Akui sajalah, enggak usah cari kambing hitam. Ini karena Surono.
Anda menyesali Mbak Maridjan menjadi korban?
Saya no comment. Saya respect. Saya ketemu 11 juru kunci di Gunung Kelud. Tapi saya enggak mau mengganggu dan tidak mau diganggu. Kita diberi akal dan budi agar berupaya menengadahkan tangan, bukan hanya menelungkup tangan. Soal Mbah Maridjan, itu bukan urusan saya.
Setahu Anda, gunung yang punya juru kunci di mana saja?
Setahu saya cuma dua, Merapi dan Kelud, Jawa Timur. Tapi di Kelud itu yang mengaku seperti Mbah Maridjan ada 11. Ada Mbah Sastro Sasmito, Joko Gendeng, Mbah Ronggo, dan lain-lain. Saya sih enggak tahu cara pembuktian mana yang asli, mana yang enggak. Pembuktiannya gimana? Saya hanya respect saja. Saya tidak pernah menganggap apa pun kecuali sebagai manusia. Selama enggak mengganggu, ya, sudah.
Gunung Sinabung (Sumatera Utara) enggak ada dukun. Adanya orang Batak yang ikatannya sangat erat sehingga bisa ikut mengingatkan kalau ada bahaya. Di Sulawesi dan Krakatau tidak ada (juru kunci). Di Jawa Barat ada tetua, di Gunung Papandayan, tetapi tidak merasa jadi juru kunci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar